Dari Tombak ke Damai
Sebuah cerita tentang suku Yahray, misi Katolik, pemerintah kolonial, pesta perdamaian, kebun kelapa, sekolah, dan ketegangan sosial ketika satu dunia lama mulai diganti oleh dunia baru.
1. Sungai sebagai jalan hidup
Daerah Kepi–Mappi didiami oleh suku Yahray. Sungai-sungai besar seperti Nambeoman, Obaa, Gondu, Edera, Cook, dan Kronkel bukan sekadar nama tempat. Ia adalah jalan hidup, ruang perjumpaan, batas wilayah, dan jalur perubahan.
Di wilayah ini, kehidupan masyarakat bergerak bersama hutan dan air. Ada kampung-kampung, kepala perang, penasihat adat, rumah laki-laki, nyanyian, tarian, pesta, dan tradisi pengayauan yang menjadi bagian dari dunia sosial mereka.
2. Benih iman mulai ditanam
Benih iman Kristiani ditaburkan di Kepi–Mappi oleh Pater Meuwese, MSC pada tahun 1937. Setelah Perang Dunia II, ia melaporkan bahwa di wilayah Awyu atau Bade, sembilan kampung telah dibuka. Empat kampung di antaranya telah merayakan pesta permandian.
Di daerah Yahray, banyak orang Katolik dijumpai, khususnya di lima kampung sekitar Sungai Nambeoman. Sementara itu, di sekitar Sungai Obaa, empat belas kampung telah dibuka, tujuh kampung sudah memiliki banyak orang yang dipermandikan, dan tiga kampung lain segera akan merayakan pesta permandian.
3. Tahun 1947: Felix Maturbongs datang ke Mappi
Pada tahun 1947, Pemerintah Belanda menempatkan Bapak Felix Maturbongs di daerah Mappi. Ia sebelumnya pernah berkarya di Mimika dan Asmat. Sebagai asisten bestir, ia pandai mengambil hati suku Yahray.
Ia meyakinkan kaum pria bahwa mereka dapat menjadi kaya seperti orang asing, asal mereka mau menyesuaikan diri dengan peraturan pemerintah, berhenti mengayau, menerima guru, dan mulai berkebun.
- 1937
Pater Meuwese, MSC mulai menaburkan benih iman Kristiani di Kepi–Mappi. - 1947
Felix Maturbongs ditempatkan di Mappi oleh Pemerintah Belanda. - 1952
Tiga suster pertama tiba: Sr. Gaudia, Sr. Jeanne, dan Sr. Yustine. - 1955
Sekolah katekis dibuka di Kepi.
4. Ketika misi masuk lebih jauh ke sungai
Dari pantai, Pater Verschueren, MSC bersama Pater Meuwese, MSC datang ke Kepi dan menjelajahi daerah Masin atas. Mereka menemukan satu sungai yang belum dikenal dan bertemu dengan suku yang berdiam di wilayah sungai baru itu, yaitu Sungai Gondu.
Ketika Pater Meuwese berangkat cuti, Pater Verschueren menjadi pastor kepala Kepi. Dari sinilah ia melihat satu persoalan penting: agama baru melarang pengayauan, tetapi pengayauan selama ini juga berkaitan dengan pesta dan kegembiraan kolektif.
5. Hilangnya keramaian lama
Suku Yahray suka akan keramaian. Sesudah pengayauan, selalu ada pesta besar. Ketika agama baru melarang pengayauan, kegembiraan kolektif itu macet.
Pater Verschueren kemudian memikirkan bagaimana pesta agama yang besar dapat meyakinkan mereka bahwa masa depan tidak kurang membahagiakan dan tidak kurang ramai dibanding masa lampau.
6. Pesta besar di Kepi
Di Kepi berkumpul sekitar 5000 orang Yahray dan 1000 orang Awyu. Di kota kecil itu didirikan bevak-bevak panjang. Makanan disediakan secara berlimpah-limpah.
Pada hari pertama pesta, orang Yahray dan orang Awyu saling berjanji untuk berdamai. Di bawah pimpinan kepala-kepala kampung, orang Yahray memperagakan serangan terhadap orang Awyu.
Namun ketika serangan harus terjadi, orang Yahray mematahkan tombak-tombak mereka. Tombak patah dan perisai rusak menjadi tanda kehendak baru: mereka memilih damai.
7. Matahari terbit dari perisai
Pada hari berikutnya, 1200 anak sekolah dipermandikan di lapangan. Altar didirikan dengan latar belakang seperti matahari terbit yang sangat besar.
Dekorasi itu dibuat dari bahan perisai-perisai dan disusun setengah lingkaran. Simbol perang lama berubah menjadi simbol harapan baru.
Sakramen krisma diterimakan kepada 2000 orang. Selain itu, diadakan juga perkawinan massal. Pesta diakhiri dengan perarakan sakramen mahakudus keliling kampung.
8. Dari pesta agama ke perjalanan misi
Pada malam terakhir pesta, Pater Meuwese kembali dari cuti. Bersama Pater Verschueren, ia berangkat ke Bade. Dari Bade, bersama Pater Vriens, mereka berpatroli di sekitar Sungai Edera yang belum pernah dikunjungi oleh orang asing.
Misi menyebarkan agama Katolik kepada penduduk di sekitar hutan itu. Para pastor Kepi mencari jalan di daerah Sungai Cook dan Kronkel, hingga berhasil mencapai Pantai Kasuari. Namun perjalanan jauh itu tidak dianggap lebih penting daripada pelayanan kepada bangsa Yahray.
9. Perubahan sosial yang lebih dalam
Baik Bapak Maturbongs maupun Pater Verschueren berpendapat bahwa pesta-pesta agama saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan baru penghuni kampung.
Masyarakat dilarang mengayau. Rumah-rumah laki-laki dibongkar. Rumah-rumah keluarga dibangun. Urusan hukum pidana dicabut dari tangan kepala-kepala perang dan diserahkan kepada pengadilan pemerintah.
Pendidikan anak-anak dialihkan dari orang tua kepada guru-guru. Semua orang juga mulai ingin memiliki barang-barang besi, kapak, parang, dan pakaian.
10. Kelapa sebagai jalan ekonomi baru
Pemerintah dan pemimpin agama mencari jalan agar masyarakat dapat memperoleh barang-barang yang mereka inginkan. Yang diperlukan adalah hasil pertanian yang dapat dijual atau diekspor agar menghasilkan uang.
Direncanakanlah penanaman pohon kelapa dalam jumlah besar. Setiap kampung membuat kebun umum. Orang dewasa bekerja bersama anak-anak sekolah pada hari Senin. Hari penanaman kelapa dirayakan sebagai pesta besar.
Tamu diundang. Tifa ditabuh. Tari-tarian massal dilakukan. Kurban misa dirayakan di kebun. Bibit kelapa diberkati. Setiap tahun kebun kelapa diperluas.
11. Sekolah, asrama, dan poliklinik
Kebutuhan jasmani diperhatikan, tetapi kebutuhan rohani tidak dilalaikan. Sekolah kampung berjalan sebagai sekolah peradaban. Belajar bernyanyi, meniup suling, dan bekerja kebun diutamakan di atas membaca, menulis, dan menghitung.
Anak-anak yang paling pandai diberi kesempatan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Di Kepi dibuka sekolah pendidikan pra-menengah dan didirikan asrama laki-laki dan perempuan.
Pada tahun 1952, tiba tiga suster pertama: Sr. Gaudia, Sr. Jeanne, dan Sr. Yustine. Mereka membantu sekolah dan asrama. Satu suster membantu membuka poliklinik pertama.
12. Sekolah katekis di Kepi
Di daerah misi sudah banyak katekis dan keluarganya. Mereka hidup di kampung-kampung yang dibuka karena kedatangan mereka. Namun kesulitan yang dialami di mana-mana adalah katekis-katekis itu kurang berpendidikan.
Pater Verschueren bersama pastor-pastor lain di Kepi merencanakan lembaga pendidikan untuk mempersiapkan calon katekis secara teori dan praktik. Baru pada tahun 1955 sekolah katekis dibuka di Kepi, dipimpin Bapak Renyaan dan dibantu Sr. Caroline.
Para calon katekis sudah berkeluarga. Ketika para bapak mengikuti pelajaran kelas, para ibu mengikuti kursus mengatur rumah tangga.
13. Pendidikan, adat, dan perdebatan arah perubahan
Kerja sama antara misi dan pemerintah menekankan pendidikan bagi orang Mappi sesuai adat istiadat mereka. Pembaharuan sistem pendidikan tidak boleh dilepaskan dari struktur sosialnya.
Dalam penelitian ditemukan bahwa selain kepala perang, ada juga penasihat adat. Pesta-pesta adat perlu dihidupkan kembali agar perhiasan badan, nyanyian, dan tari-tarian dapat menghadirkan suasana gembira orang-orang kampung.
KPS Cappetti pergi ke kampung-kampung bersama ketua-ketua adat untuk mengadili orang-orang yang bersalah. Bersama kepala-kepala adat, ia juga mengatur rencana kerja untuk bulan-bulan berikutnya.
14. Ketegangan dengan Merauke
Namun atasan pendidikan di Merauke tidak setuju dengan arah pendidikan di Mappi. Guru-guru dianggap telah menjadi pembantu rencana makmur dan proyek coklat. Mereka lebih mengutamakan kerja di kebun daripada mengajar di sekolah.
Merauke berpendapat bahwa guru-guru harus menjadi kepala sekolah dan harus mementingkan pelajaran. Pater Huiskamp dari Merauke menjadi pengurus sekolah. Ia melarang kerja kebun pada hari Senin dan memaksa guru-guru mengajar sesuai tuntutan zaman modern seperti yang dituntut di Merauke.
15. Masa lalu yang belum pergi
Misi bukan hanya membicarakan persoalan ini dengan KPS. Para pastor muda juga mengambil tindakan tegas. Khusus di bagian Sungai Miwamon, baik Bapak Maturbongs maupun Pater Huiskamp melaporkan bahwa tombak baru dibuat dalam jumlah besar.
Di sana muncul kehausan untuk pergi mengayau seperti pada zaman dahulu. Perubahan ternyata belum selesai. Dunia lama belum benar-benar pergi.
Penutup: Perubahan tidak pernah datang sendirian
Cerita Kepi–Mappi bukan hanya cerita tentang agama, pemerintah, atau pendidikan. Ini adalah cerita tentang perubahan sosial yang dalam: dari tombak ke damai, dari pesta perang ke pesta agama, dari rumah laki-laki ke rumah keluarga, dari adat lama ke sekolah, dari sungai ke kebun kelapa.
Namun setiap perubahan selalu membawa pertanyaan. Ketika pengayauan dilarang, apa yang menggantikan kegembiraan kolektif? Ketika pendidikan modern datang, bagaimana adat tetap hidup? Ketika ekonomi baru diperkenalkan, siapa yang menentukan arah masa depan?
Di Kepi–Mappi, sejarah bergerak bukan sebagai garis lurus, tetapi sebagai arus sungai: berbelok, bercabang, kadang tenang, kadang deras, dan selalu membawa ingatan lama ke dalam dunia baru.
Referensi
Keuskupan Agung Merauke, Sejarah Gereja Katolik di Irian Selatan, Merauke, 1995.
Ikhtisar Kronologis Gereja Katolik Irian Barat, Jilid II.
Karel Steenbrink, Orang-orang Katolik di Indonesia: Sebuah Profil Sejarah, Maumere: Ledalero, 2006.
Sumber awal: Berto Namsa, postingan Facebook, 9 Mei 2022.
0 Komentar